![]()
BISMILLAH (Haqiqat Semata)
engamini disebut juga dengan haqiqat Mujaradat atau dengan Derajat Haqiqat. Orang awam dan orang alim belum mencapai derajat haqiqat ini, mereka hanya sampai kepada tingkat ilmu belaka. Belum lagi sampai kepada derajat haqiqat ilmu dan ma’rifat. Orang yang berada pada tingkat haqiqat semata ini, tidak lagi berpegang kepada kulit lahir daripada nash dan dalil. Mereka telah menyeberang dari Alqur’an dan Alhadits, mereka langsung menuju Tuhan tanpa perantara.
Rasulullah SAW sendiri sebelum turunnya Al-Qur’an beliau sudah ma’rifat kepada Tuhan Allah, beliau cukup memakai dalil-dalil alam sekelilingnya itulah yang disebut (kitabulwujud). Orang yang berada maqam ini berkata dengan sembarang kata, mereka tidak peduli atas kaidah syariat, makanya ulama-ulama ahli kulit atau ulama fiqih menghukumkan jindik kepada mereka. Sebenarnya kata-kata jindik itu hanya menakut-nakuti saja. Orang-orang sidik yang kuat memegang syariat berkata : Kata jindik itu hanya untuk supaya jangan ditiru oleh orang yang dangkal ilmu pengetahuannya, jadi saya yakini bahwa haqiqat semua ini dapat dibenarkan, asal orang itu benar-benar mendalam dalam ilmu ma’rifat dan telah sampai puncaknya. Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda dan tiba-tiba disuruh Tuhan menutupi lidahnya, agar supaya terpelihara syariat Muhammad. Para sahabat mengumpulkan dan mencatat semua hadits Nabi yang sangat Rahasia, kalau dicatat semua, maka bisa membawa fitnah besar. Para sahabat sering membicarakan soal yang mendalam sampai keluar dari Al-Qur’an dan Alhadits dan Nabi Muhammad SAW sering melarangnya sebab sabda beliau. “Tidak semua umatku yang mencapai maqam ini” dan nanti bisa membawa fitnah besar.
Sabda Nabi Muhammad SAW, maka yang rahasia itu hanya dibisikkan ditelinganya orang yang beroleh (ilham) dan Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda yang artinya : Aku Allah tidak ada Tuhan, melainkan Aku. Demikian hadits sahih yang pernah saya temui dalam sebuah Kitab Tasawuf yang sangat mendalam sekali isinya, maka apabila saya syak dan ragu dengan hadist ini tadi, maka kafirlah saya. Pada saat ini juga dan bakarlah saya dengan neraka jahanam itu. Dan turunkanlah bala bencana yang maha hebat di dalam dunia ini juga, dan janganlah engkau terima tobat saya sampai hari kiamat engkau maha mendengar lagi maha mengetahui orang yang telah mencapai tingkat ini, mereka telah berada pada alam yang tinggi atau kuasa, yang tertinggi, yang disebut dalam firman Tuhan yang berbunyi : (Al wala il adat) orang ini (haqiqat semata : tidaklagi berpegang kepada syariat yang jahir ini. Sebab dalam pandangannya, syariat yang berlaku ini adalah syariatullah jua. Gerak dan gerik hanya pada Allah. Orang yang telah sampai kepada Allah mereka se-ia-sekata seujud senyawa serana dan satu rahasia.
Kehendaknya tidak berlawanan dengan kehendak Allah. Mereka telah satu dengan Tuhan. Sifat Tuhan menjadi sifatnya. Ia telah fana dalam Tuhan dan baqa dalam Tuhan. Siapakah lagi yang memerintah dan siapakah yang diperintah. Tentu tidak ada apa-apa lagi. Pahamkanlah ???
Orang yang berada pada maqam tertinggi ini telah mendapat kebesaran dari Tuhan. Karena mereka satu kedudukan dengan Tuhan dalam segala hal. Orang ini kerapkali berkata dengan deras sekali. Karena mereka berdiri sendiri menurut kehendaknya sering berkata :
Aku yang punya alam, aku yang kuasa dan aku yang menentukan : Hukum : yang Tuhan itu adalah aku, Muhammad itu urusanku, Malaikat itu abdiku, dan semua makhluk menghadap kepadaku, dan katanya lagi akulah Tuhan sekalian makhluk : semua orang yang menghadap itu adalah menyembah kepadaku.
Alangkah besarnya kuasaku. Akulah Tuhan yang hidup yang tidak mati-mati. Semua makhluk mati kecuali aku yang tiada rusak dan tiada mati. Aku hidup dengan sendirinya tiada ruh dan tiada jasad. Kadang-kadang mereka berkata pula. Aku ada dimana-mana di Arsyi, di langit dan di Bumi.
Apabila aku berkata-kata maka Tuhanku menjawab hambamu mendengar suaramu. Alangkah mesranya hidupku bersama kekasihku. Dia adalah aku dan aku adalah dia. Aku satu dengan Allah. Aku satu dengan Muhammad. Aku satu dengan Adam dan Aku satu dengan seluruh alam, akulah Tuhan Yang Maha Esa. Aku berbuat menurut sekehendakku, kalau hendak melihat Tuhan, lihatlah aku semua wali itu adalah waliku. Aku berkata sembarang kata, tak ada satupun yang mencegahnya, kecuali aku sendiri alangkahnya mulianya aku, akulah yang lapang aku jua yang sempit.
Semua perbuatanku di dalam alam ini adalah baik hanyalah makhluk sendiri salah sangka, siapa yang menyangka baik, maka baiklah ia. Inilah orang yang sejajar dengan maqam Rasulullah SAW janganlah pandang zahir semata : niscaya engkau jauh dari Tuhan. Apakah arti haqiqat yang sesungguhnya. Arti haqiqat itu ialah : Tuhan semata : tiada campur tangan makhluk, sedang makhluk itupun juga asma Tuhan, Allah itupun asma Tuhan. Semuanya asma Tuhan tetapi haqiqatnya satu jua bagi orang yang telah bertemu dengan intisari ilmu dan ma’rifat adalah ia tidak perlu lagi menyebut asmanya dengan kata-kata (Aku-Hu) inipun kalau keluar tetapi bagi batinnya cukuplah diamnya. Orang yang telah bulat atau satu dengan Tuhan telah hapus kata-kata syariat atau tarikat hanya tinggal batin haqiqat dan Lahir Ma’rifat yang dalamnya disebut haqiqat dan yang luarnya disebut Ma’rifat yang diatas lagi : tiada ada / hapus kata-kata ma’rifat tinggallah (Haqiqat semata) : (Tuhan semata) jadilah tinggal satu pandang syuhud saja (syuhudul wahdah fil wahdah) Tuhan memandang kepada dirinya sendiri.
Jadi disini tidak ada tariqat dan ma’rifat lagi. Semuanya tidak ada, yang berdiri di atas (Haqiqat, Haqiqat) ini ialah (zat) dari Tuhan. : (Allah Adza Wazalla) jelasnya tidak ada sifat yang berdiri di atas (zat) jadi jahir Tuhan bathinpun Tuhan yang nyata Tuhan dan berhimpun Tuhan jua. Jadi yang berlaku pada sekalian alam ini adalah (zat semata) atau yang disebut : (Haqiqat semata) atau dengan kata lain (rahasia) ialah (Hu-Aku-Semata) kata-kata aku disini adalah murni tak diragukan lagi kebenarannya.
Man Ana (siapa aku) aku disini ialah (Tuhan sekalian makhluk) simpan seluruh alam dunia dan alam akhirat. Kalau hendak menerangkan kalimat : Aku Ana : kering air lautan untuk tintanya dan tak cukup daun-daun kayu untuk kertasnya, untuk menulis kalimat : Aku-Ana : tak akan habis-habisnya. Untuk memecahkan satu kalimat saja tak cukup umur kita. Inilah tanda kebesaran Tuhan seru sekalian alam, sedang inipun hanya satu tetes embun saja daripadanya ilmu rahasia yang dianugerahkan Tuhan kepada hambanya. Hanyalah sebagai setetes embun diwaktu pagi, sedang setetes ini sajapun banyak orang yang heran dan tercengang mendengarnya. Apalagi umpamanya dua tetes, mungkin ada yang mati terkejut karenanya. Atau langsung mendustakannya, sekurang-kurangnya orang mengatakan gila atau kafir.
Tetapi saya tidak heran atas tingkah laku hamba Allah di dalam alam dunia ini, karena semuanya itu terjadi atas kodrat dan iradat Allah semata-mata. Dunia ini adalah panggung sandiwara Allah Ta’ala dimana Tuhan sendiri sebagai dalangnya, maka kalau sudah tahu rahasianya tentram dan bahagia hidupnya dan tak pernah mengeluh lagi. Orang yang sudah benar-benar bulat : tidak ada takut lagi kadang-kadang orang yang telah merasa nikmatnya karunia Tuhan itu ada yang ingin mati saja. Yaitu mati dipangkuan kekasihnya. Orang demikian ini pandangan Allah semata dan baik semata, dan tersenyum semata, tidak ada lagi kebencian, buruk sangka, fitnah dan lain sebagainya. Orang yang seperti ini berkata selalu benar dan tak mau dusta lagi. Mereka tidak mengeluh dalam kemiskinan dan cacian orang.
Orang ini telah melekat dalam hati sanubarinya sampai ke puncak Arsyi perasaan redhanya atau suci bersih (Ruh dan syirnya) dan hanya dalam pandangannya (Aku-semata-mata) ia tidak lagi mengata : (Anallah, atau Anal Haq) atau Aku Zat, atau aku sifat, atau aku hamba, atau aku makhluk, atau aku manusia tetapi cukuplah isyarat : (Aku-Ana) kalau tidak perlu diam saja. Mereka tidak dapat lagi membedakan yang mana dirinya dan yang mana Tuhannya, dan yang mana makhluk dan yang mana Tuhan, dan tak tahu lagi membedakan antara buruk dan baik dan tak tahu lagi dosa dan pahala hanya ia berkata dengan sembarang kata. (Al haq ada padanya) dan dengan dialah (Haqiqat) dan dialah yang jahir dalam (Ma’rifat) (Jahirnya Tuhan Bathinnya pun Tuhan). Dia berdiri diatas (Hukum bukan dibawah hukum) biarpun dia dicela dan dicaci, dimanja dan dipuji baginya adalah sama saja. Inilah (Manusia Allah) yang suci murni dan tiada noda walaupun satu titik hitam, kata-kata kafir atau gila dianggapnya sebagai suara merdu bagaikan seorang syufi meniup seruling buluh perindu dari taman surga. Suara cacian dan hinaan sebagai nyanyian pelepas rindu dikala kesepian. Tak mampu manusia memutar balikkan hatinya atau yang disebut : (qalbun-salim).
Dia tetap tenang, tentram, dan bahagia, Allah tetap hadir dalam setiap saat atau detik dalam perasaannya. Orang-orang seperti ini dapat dihitung dengan jari tangannya. Dia adalah termasuk golongan yang sedikit. : Diantara : 72 atau 73 : golongan. Kami berani menyatakan, bahwa kami termasuk golongan yang sedikit yaitu golongan fiyah qolelallah dalam istilah sufi disebut keluarga Tuhan. Artinya : (satu haderat dengan Tuhan), bahkan satu kedudukan dan satu kerajaan dengan Tuhan. Satu kekuasaan dan satu kebesaran dan satu kemuliaan. Kamilah Tuhan sekalian alam. Orang yang begini nampak jelas pada sari mukanya (Nor Illahi memenuhi jiwanya, Nor Muhammad meliputi ujudnya, : ahlaq Allah dalam setiap gerak dan geriknya, Kalamullah setiap kata dan ucapannya. Rahman dan Rakhim dalam setiap pandangannya. Suara Allah dalam setiap pendengarannya.
Kalimah Allah dalam setiap langkahnya dan tujuannya, sirullah dalam setiap turun naik nafasnya. Zikrullah dalam setiap denyut jantungnya. Mereka wedatuqzikri dalam setiap diamnya. Rahasia Allah dalam setiap : Akuannya : Dia Esa dalam Arsyinya dan tunggal dalam melakukannya.
Dia berhak berkata-kata dengan namaku yang maha pengasih maha penyayang. Segala puji itu hanya untukku, karena ia datang dariku dan kembali kepadaku. (Tahukah kamu wahai maklukku). Bukan engkau yang berbuat itu, tetapi aku jua memuji diriku. Aku memuji diriku atau aku diam saja, apakah aku tidak berkuasa? Aku bebas menurut sekehendakku aku jua yang menyuruh dan aku jua yang mencegah. Apabila aku yang menyuruh, maka satu makhlukpun tak ada yang sanggup meninggalkannya. Dan apabila aku yang mencegahnya, maka satu makhlukpun tak ada yang sanggup mengerjakannya.
Inilah tanda kebesaranKu dan tanda kekuasaanKu dalam setiap makhluk-Ku. Apakah kamu masih belum mengerti ??? Apakah aku yang ada, maka tak usah kamu takut dengan Neraka dan tak perlu kamu mencari Surga. Akulah yang berhak menentukannya. Karena aku jua yang berbuat dan yang melarangnya. Apabila aku menyampaikannya bukan aku mewajibkan apa-apa untukmu. Hanya semata-mata aku menyuruhmu supaya masuk ke dalam Surgaku. Apakah kamu belum mengerti ???
Bukanlah aku merindui Surga tetapi Surga itu rindu kepadaku. Bukan aku takut kepada Neraka, tetapi Neraka itu terbit dari Surga? Dan Surga itu terbit dari aku, pantaskah aku yang sujud kepada Surga dan Neraka? Bodoh amat orang yang mencari Surga atau takut kepada Neraka. Tahukah kamu wahai sekalian manusia?
Dunia ini milikmu dan akhirat itu haqmu
Dunia ini jahirmu dan akhirat itu bathinmu
Dunia ini badanmu dan akhirat itu jiwamu
Dunia ini sifatmu dan akhirat itu zatmu
Sifatmu tiada lain dari pada zatmu
Dunia ini adalah neraka pada haqiqatnya
Akhirat itu adalah surga
Dunia dan akhirat adalah satu, Surga dan Nerakapun satu jua. Allah dan Muhammad satu. Kalau begini manakah Neraka itu? Manakah dunia atau makhluk itu? Manakah qadim dan yang Muhammad? Manakah yang jasad dan manakah yang roh itu dan manakah yang makhluk dan manakah yang Tuhan?
Pahamkanlah sendiri saja pintu sudah terbuka. Bodohlah kamu kalau masih belum mengerti berkah kitab : (Berencong) teman artinya : perpisahan antara lahir dengan yang bathin. Antara batal dengan yang haq. Antara ahli kulit dengan ahli isi. Antara ahli syariat dengan ahli haqiqat. Perpisahan antara makhluk dengan Tuhan. Perpisahan antara ahli ibadah jahir dengan ahli ibadah bathin.
Berbincang tak mau campur baur, dengan ahli syariat memisahkan diri tak mau rapat. Ilmu jahir membawa mudarat.haqiqat Allah bahagia dunia akhirat. Kitab barencong pusaka lama, jangan dibuang di laut merah, hati bingung di dalam dada, ingin mati di lautan darah.
Kalau belum bertemu, rindukan bulan kalau dapat, jangan tak dihiraukan. Sulit merasa buang anak bini. Rahasia sejati ilmu robbani. Kalau benar ingin teruskan, tunjukkan muka taruh di depan, pantang mundur pahlawan Tuhan, mati sahid dipangkuan Tuhan. Kitab Barencong jangan tanyakan, tak ada jawab tuan dapatkan, kalau percaya silahkan makan. Kalau ragu cepat muntahkan.
Banyak bicara ragu timbulkan
Banyak Tanya nyata ketakutan
Anti dua makhluk dan Tuhan
Kitab Barencong unggul di depan.
Datuk sanggul gelar mulia,
Ilmu sejati tak mau dibelah dua
Tuhan dan Muhammad adalah beta
Sanggul unggul akulah timbul
Datuk Sanggul jelmaan Tuhan
Tuhan menjelma bernama Sanggul
Limpah rahkmat Abdullah timbul
Sanggul lenyap didalam makbul
Bukan aku bertaqlid buta
Kepada pimpinan asal semula
Kini langsung menuju Dia
Tuhan Allah tanpa perantara
Aku Allah Sanggulpun Allah
Para wali halipullah
Tidak berbeda dihaderat Allah
Walaupun yang hina atau Nabi-Nabi Allah
Rasul-rasul dan Nabi-Nabi manusia Allah
Pandangan jahir adat dunia
Aku Allah di atas segala-galanya
Nama dan pangkat hanya asma
Kalau orang berkata
Rasul ini mulia dan Nabi ini adalah kaya
Sahabat dan aulia serta ambia
Para wali taruh di muka
Mari kujawab semua kata
Semua itu adalah beta
Miskin dan mulia ada pada kita
Semua Allah Tuhan yang nyata
Adakah tinggi atau melata
Semua makhluk termasuk kita
Tuhan Allah Khalik pencipta
Semua rata dihadapan unda
Orang jahir serta pendusta
Pakai jubah kaya pendeta
Hati busuk jiwa kaya buaya
Lain dimulut lain pula dirasa
Ilmu jahir memecah kata
Yang satu di belah dua
Alim ulama jangan dipercaya
Kalau makhluk masih berdaya
Biar maling gawiyan dunia
Ilmunya ambil asal sempurna
Tidak sembahyang bukan ukurannya
Ilmu sejati Tuhan yang punya
Biar alim dalam dunia
Taqlid buta hidup percuma
Bila sembahyang mencari balasannya
Tanda munafik nampak keliahatannya
Awal sembahyang tiada artinya
Hati sirik kotor jiwanya
Aku Allah yang menentukannya
Siapa kenal tiada sempurna
Tuhan itulah haqiqat ujud dalam hidup ini. Tuhan itulah alam.dan Tuhan adalah satu. Maka siapa fana dengan Allah, niscaya ia lupa akan dirinya, dan berkekalan dengan Allah dalam zuhudnya. Siapa tiada melihat Allah, dalam apa yang ia lihat, nyatalah ia masih terdinding.
Seorang ahlul haqiqat, yang tiada berhaqiqat. Seorang pencinta Tuhan yang tiada ber-Tuhan. Dan seorang yang bersyariat yang tiada bersyariat dan seorang ahlul ma’rifat yang tiada berma’rifat dan seorang ahli pikir tiada menggunakan pikirannya dan seorang ahli tasawuf yang tiada bertasawuf. Seorang pengenal yang tiada mendatangkan pengenal. Karena yang (mengenal dan yang dikenal adalah satu jua) yang mencari itu sendiri, itulah yang dicari.
Artinya : Tuhan mengenal Tuhan
Lemah daripada mendapat akan pendapat
Itulah pandapat Tuhannya
Jadi siapa kenal akan dirinya
Niscaya kenal akan Tuhannya
Jadilah nyatalah tuhan di dalam diri.
Diri di dalam genggaman Tuhan, dengan kata lain : (peliharalah Tuhan pada bathin hambanya). Jadi kesimpulannya jahir Tuhan, bathinpun Tuhan. Dunia Tuhan akhiratpun Tuhan. Awal Tuhan akhirpun Tuhan. Yang nyata Tuhan, dan yang gaibpun Tuhan. Semua itu Tuhan dan Tuhan itu semua.
Inilah ilmu : sebuku yang sejati : inilah ilmu :
Ma’rifat yang sempurna
Inilah agama : Islam yang sempurna
Inilah Iman haq : yang diridhoi
Inilah : Amal ibadah yang bernilai
Inilah : Manusia Allah yang suci murni
Inilah : Dua kalimah sahadat yang sesungguhnya dan yang sempurna
Disinilah : Sembahyang : Mi’raz namanya
Disinilah : Puasa yang sebenarnya
Disinilah : yang sesungguhnya : haqiqat
Disinilah : Haji yang mabrur
Disinilah letaknya kebenaran cinta kita kepada Rasul dan kepada Tuhan dan kepada segala makhluk dan disinilah yang disebut (agama).
Agama : artinya : Alif, Agen, dan Mim. Apakah artinya : Agama : itu dalam arti yang mendalam ialah :
Alif artinya : Zat Allah
Mim artinya : Sifat Allah
Agen artinya : Antara dua ujud, yaitu ujud Allah dan ujud Muhammad atau antara ujud Adam dan ujud Allah.
Baiklah aku susun dengan rapi
Alif artinya : Allah
Mim artinya : Muhammad
Agen artinya : Nafsu syahwat.
Jadi dinding antara Muhammad dengan Allah ta’ala ialah (Nafsu) siapa yang sanggup mengalahkan nafsu itu berarti ia bertemu dengan Tuhan.
Inilah arti yang sebenarnya dalam (Rahasia) ke-Tuhanan, jangan hanya bisa mengatakan saja, sedang haqiqatnya belum tahu, haqiqat yang sesungguhnya nafsu itu ialah : (Syahwat).
Dapat saya uraikan dalam beberapa pasal :
1. Yang disebut dalam Al-Qur’an yaitu (Syaithan)
2. Nafsu kebinatangan (Hayawan)
3. Nafsu yang belum terkendalikan
Siapa yang sudah sanggup mengalahkan nafsu syaithan itu, berarti tidak ada syaithannya lagi. Kini menjadilah nafsu zat haq Ta’ala atau nafsu Muhammad, inilah sirrullah namanya. Maka apabila datang dari zat ilahiyah (zat ke-Tuhanan) semuanya baik dan semua ibadah inilah arti agama itu, inilah agama yang selamat atau lazim disebut agama Islam itu artinya selamat sejahtera.
Jadi dinding (Hijab Allah) itu ialah yang disebut (Agen) itu tadi. Apabila musnah agen itu tadi, disebut pula (Ain). Maka (Ain) inilah (Zat ke-Tuhanan yang mutlak). Marilah kita buka terus rahasia ini. Anda sering mendengar orang berkata (hilangkan titiknya dulu, baru kamu sampai kepada Allah. Baiklah aku dengan rela hati menerangkannya kepada anda, sesudah itu tutuplah. Baiklah kita membicarakan kembali antara (Ain) dan (Agen), huruf (Ain) tidak bertititk, sedang huruf (Agen) ada titiknya. (Agen) ini punya titik. Hilangkanlah titik (Agen) ini. Maka jadilah ia huruf (Ain).
Kalau huruf (Agen) itu sudah kita buang titiknya, maka automatis orang yang menyebut (Ain). Jadi Ain ini Zat ke-Tuhanan yang mutlak (Nafsu zat haq ta’ala) sedang Agen tadi adalah nafsu syaithan atau nafsu yang bathil, maka bila hilang titik Agen itu tadi, maka berubahlah menjadi (Ain).
Contohnya :
Sama
Hanya menghilangkan titiknya jadi sempurna ilmunya. Sama halnya dengan kata : Aku : si batal menyebut : Aku : si haq menyebut : Aku : disini kita hanya menghilangkan Aku ini makhluk. Bila sudah hilang hanya akuan Allah saja yang adalagi, maka sempurnalah ilmunya.
Inilah cara menghilangkan titik itu tadi. Rahasiakanlah buat sementara mudah saja bukan? Semuanya jadi rahasia kalau belum diketahui.
Agama – inilah rakamnya
MA GA A
Muhammad Nafsu Syahwat Allah
Islam
Dalam artian umum ialah : selamat. Dalam artian ma’rifat lain pula artinya yaitu : (Allah Sir, Nafsu yang haq dan Muhammad).
Antara Allah dan Muhammad adalah Sir rahasia dan nafsu zat haq ta’ala. Apabila dapat menyatukan antara Sir dan nafsu yang haq, maka baru benarlah dapat menyatukan Allah dengan Muhammad.
Apabila sempurna yang empat macam ini, barulah sempurna Islamnya dan sempurna imannya dan sudah mengalahkan nafsu syahwat seperti keterangan di atas tadi. Sesudah mengetahui yang sesungguhnya artinya : Agama Islam maka barulah dinamakan : Islam sejati dan iman yang sempurna.
Inilah yang benar-benar agama dan sebenar-benar Islam dan yang sebenar-benar nya iman haq. Inilah minum yang sejati dan hamba yang sempurna. Janganlah hanya mengatakan beragama Islam sedang jiwanya kosong dari agama. Demikian pula halnya mengenai akidah/pendirian seseorang, yaitu tanpa taklid buta, dan ikut-ikutan orang lain. Kita wajib menyaksikan sendiri, membuktikan sendiri dan merasakan sendiri. Inilah yang sebenar-benar agama yang sempurna.
![]()
MA’RIFATULLAH – MENGENAL ALLAH
rang awam dan orang alim mengenal Allah ialah hanya mengenal sifat-sifatnya saja, tidak ada keberanian untuk mengenal zatnya. Jadi ilmu tauhid yaitu ilmu untuk meng-Esakan itu sudah jauh berubah dari aslinya. Meng-Esakan Tuhan menurut ulama ahli jahir yaitu simpangnya dari yang dimaksud oleh ulama bathin. Apalagi soal-soal kepada zatnya.
Maka kebanyakan ulama syari’at menuduh ulama haqiqat tersesat jalan. Soal ini bukan soal baru, sudah ribuan tahun ulama jahir tidak sejalan dengan ulama bathin, makanya anda jangan cepat terpengaruh oleh banyak ragu ulama syari’at. Mereka hanya berpegang kepada kekuatan akal manusia semata, bukan dari wahyu atau ilham Tuhan Allah SWT.
Makanya orang awam dan orang alim, hanya menggunakan akal makhluknya secara paling-paling beraninya hanya sampai kepada Nur Muhammad saja tidak berani meningkatkan kepada sampai Nur Zat dan sampai kepada Zat mutlak. Disinilah kekeliruan ulama syari’at semata. Sedang Nur Muhammad itupun katanya : Muhadas padahal Nur Muhammad itu qadim dan azali. Disini sudah persimpangan jalannya antara ulama-ulama syari’at dengan ulama haqiqat, makanya saudara-saudaraku yang beriman : supaya tetap teguh pendirianmu jangan sampai luntur. Sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan itu sudah biasa antara dua pihak itu, karena ingin membela masing-masing paham. Kesimpulannya jalan yang terbaik bagi kita adalah diam saja, kecuali dipukul, sedang memukulnyapun carilah jalan yang halus, supaya mereka sadar dan mau mengerti, karena memang haqiqat semata ini sangat menolok mata umum.
Tetapi kalau sudah melompat kata, teruskanlah jangan menunduk lagi walaupun nyawa taruhannya. Memang kalau ilmu yang rahasia ini kita bukakan terus, niscaya timbul kelemahan dalam ibadat lahir, sebab kita sudah dan telah mengetahui. Rahasia-rahasia semuanya paling-paling kata-kata cinta atau kata-kata memelihara yang timbul padahal semua itu hanya pakaian dunia saja atau memperindah lahirnya saja.
Nikmatnya tidak melawan dengan nikmat Ma’rifat itu sendiri tidak ada suatu nikmat yang melebihi nikmat surga, kecuali nikmat seorang ahlul ma’rifat. Satu kali tafakur sesaat : sama beribadah seribu tahun. Bukan main besarnya nikmat Ma’rifat itu gerakan diamnya ibadah. Inilah ilmu yang istimewa seorang ahlul ma’rifat. Apabila seorang ahlul ma’rifat lalai dalam kewajiban yang lahir ini umpama dibuka Nur Ma’rifatnya niscaya memenuhi langit dan bumi. Apabila Nur seseorang ahlul ma’rifat yang taat maka tak dapat digambarkan nur cahayanya, hingga memenuhi malaqut langit, Arsyi dan kursyi luh dan kalam dan menerangi alam dunia dan alam akhirat tiada taranya dan tak ada bandingannya.
Apakah artinya sembahyang dengan anggota tubuh itu. Seorang ahlus syufi zaman bahari kata ulama sekarang : mereka tak pernah meninggalkan sembahyang jahir ini. Apakah anda mau minta bongkar semua rahasianya, seorang syufi memakai dalil itu dan nash ini, sembahyang itu sembahyang ini. Itu hanya tipu daya saja untuk memikat hati orang-orang ahli kulit atau syariat semata. Yang penting baginya hanyalah supaya orang tidak merasa terpaksa memasuki alam tasawuf.
Beginilah cara yang paling halus untuk menarik umat menuju yang haq Tanpa dalil atau kitab : Orang bisa mengenal Tuhannya. Diri kita sendiri adalah dalil yang paling dekat dan paling nyata untuk mengenal Tuhan. Adanya Tuhan adanya kita inilah dalil yang paling istimewa untuk melihat Tuhan, untuk melihat sendiri seperti Rasulullah SAW bersabda : ( …………….. ……………. ……………..) (Anallah la illaha illa ana) artinya : ………………. (Aku Allah tidak ada Tuhan melainkan Aku). Inilah yang setinggi-tingginya dalil atau nash tak perlu repot dan menghambur-hamburkan uang untuk biaya mengaji rahasia besar ini. Karena agama bukan jadi pencaharian, itu soal kedua, atau tidak ada soal sama sekali inilah dalil yang disebut : (Kitabul-wujud) artinya : kitab yang ada, atau kitab di dalam diri.
Jadi kalau syufi berbeda-beda karena aliran tasawuf ini ada beberapa bagian tiap-tiap satu bagian lain pula caranya peribadahannya. Bagi tasawuf aliran kita ialah : bebas dari hukum-hukum syara, hanya terserah kepada masing-masing saja. Kita tak perlu menampakkan peribadatan yang lahir ini, kalaupun ada itu hanya tanda cinta atau hanya untuk memelihara syariat Muhammad saja. Sembahyang jadi tak sembahyangpun jadi. Pendeknya bebas dari kekangan dan paksaan hukum syara, kita ini sebenarnya tidak ada yang memerintah dan tak ada yang diperintah, tak ada yang menambah dan tak ada yang mengurangi, karena rajinnya beramal dan tak berkurrangnya nilainya, karena kerenggangan jelasnya tidak menambah pahala, atau tidak menambah dosa, jelasnya ma’rifat itu tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang. Inilah ilmu kesucian namanya. Apakah anda masih belum puas. Aku rasa ini sudah memuaskan dahaga jiwa kita.
Biar miskin harta, asal jangan miskin hati.
Biar miskin dengan kesaktian dunia, asal jangan miskin penyaksian.
Biar hina di mata makhluk, asal jangan hina disisi Tuhan
Biar kafir dimata manusia, asal jangan kafir disisi Allah
Biar jahat dipandang makhluk, asal jangan jahat di haderat Allah
Biar tidak sembahyang dihadapan makhluk, asal taat disisi Allah
Biar munafik dimata manusia, asal baik disisi Allah
Inilah pendirian seorang ahluk haqiqat semata. Bumi tidak sanggup megandung dan langit tak sanggup menjunjung. Cukup sampai disini dahulu lalu kita sambung lagi.
Wassalam.
Kebenaran
Untuk mengetahui kebenarannya dalam ajaran tasawuf ini, kita dapat merasakan sendiri, marilah kita beri contoh seperti yang sudah kurasakan. Aku sendiri telah merasakan kebenarannya dalam rahasia ma’rifat ini pertama-tama kupelajari ilmu fikih, ilmu tauhid, dan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan pengetahuan agama Islam.
Kukerjakan sembahyang dan puasa dan ibadah-ibadah yang sunat, kujauhi larangan dan kutaati hukum-hukum syariat. Tetapi semua itu tidak ada membuat ketentraman jiwa dan kebahagiaan hidup. Apalagi dikala aku dalam serba kekurangan dan mendapat musibah. Tidak ada kesabaran dan pikiran sehat. Setiap lepas sembahyang aku selalu berdo’a memohon ketenangan jiwa.
Semakin banyak berdo’a bahkan sebaliknya, tambah gelisah resah di dalam hati sanubari di dalam beramal, beribadah tak pernah kurasakan nikmatnya, hanya yang kuperoleh ujub, ria takabur dan sombong yang timbul dalam perasaanku hanya ketakutan. Takut tidak diterima, takut tambah dosa, dan takut dikatakan pemalas dalam sembahyang. Aku selalu gelisah kalau dalam keluarga dan gembira kalau ada rejeki. Soal mensekutukan Tuhan, menjadi-jadi di dalam hidup ini. Setelah aku mendengar dari cerita orang-orang tua bahwa tidak ada kebahagiaan hidup ini kalau belum mengenal Tuhan. Dan semua amal ibadah hampa gumpa.
Maka setelah itu aku mulai rajin mendengar pembicaraan-pembicaraan tasawuf bathin. Semakin hari semakin terang cahayanya, akhirnya aku telah berhasil dalam do’aku dan telah merasa benar, bahwa hanya dengan jalan tasawuf atau mengenal Tuhan, jiwaku tentram dan bahagia. Sekalipun aku tidak konsekwensi lagi dalam urusan syariat. Kini aku alhamdulillah semua yang berbau syirik aku buang jauh-jauh. Semua cobaan dan halangan adalah soal biasa. Kemiskinan dan kekurangan, tidak membawa aku jadi gelisah. Caci maki orang lain dapat aku bersabar. Banyak atau sedikit rejeki, tak lupa aku bersyukur, dalam musibah bencana penyakit, aku telah dapat sabar dan redha. Dalam urusan sehari-hari, aku telah sanggup tidak berdusta lagi dalam pandanganku Allah semata, dalam perasaanku timbul kasih sayang, dalam hidup ini aku telah mengetahui dan telah mengerti semuanya.
Dalam soal agama, tidak seorang pun yang sanggup merubah pendirianku. Aku tidak mau taklid buta lagi. Walaupun ulama-ulama memakai dalil-dalil dan nash-nash yang hebat-hebat. Alhamdulillah kini jiwaku tentram dan bahagia, hidupku puas dengan nikmat Allah dalam setiap saat, dalam soal ibadah aku tidak takut sedikit amal, perasaanku kini tak ada lagi merasa takut (gentar). Takut siksa dan tak takut sedikit amal dan tidak takut dicela dan tidak takut dikatakan makhluk. Tidak takut miskin dan tidak takut mati. Kata-kata takut lenyap semua dalam perasaanku, hanya kasih sayang, sabar, cinta dan redha. Dan aku telah merasa nikmat di dalam nikmat, semua nikmat tak ada bala dan siksa. Kini aku tidak minta sorga lagi, sebab nikmat sorga itu sudah dan telah kurasakan di dalam dunia ini. Dunia nikmat, akhiratpun nikmat. Senang nikmat, susahpun nikmat, tidak ada yang tidak nikmat bagiku. Tak ada yang tak baik bagiku, tak ada yang tak taat bagiku, semua nikmat, semua baik, semua ibadat, semua rahmat dan redha bagiku.
Dalam pandanganku tak ada lagi iblis dan syaithan, manusia dan jin, malaikat dan Nabi-nabi, semua Tuhan dan Tuhan itu semua. Pendeknya serba Tuhan : tak ada selain Tuhan. Dengan cara beginilah hamba Allah akan mencapai kebenaran mutlak dan tidak ada yang lebih bahagia daripada kebahagiaan seorang ahli ma’rifat.
Akidah / Pendirian
Pendirian seorang ahlul ma’rifat ialah : tak ragu akan akidahnya, dan tak pernah berubah walaupun dikafirkan orang. Mereka rela mati daripada berubah keyakinannya. Mati adalah yang terbaik dari semua jalan yang baik. Seorang ahlul ma’rifat tak pernah luntur walaupun dihujani dengan hujan fitnah. Kata-kata sesat dan kafir dianggapnya sebuah nyanyian seorang sufi yang sedang rindu kepada kekasihnya. Mereka tidak akan peduli kata-kata huruf, dan suara hanya yang penting baginya perasaannya kepada Tuhan.
Apabila telah bersemi, dan berupa penerimaan dari khaliknya, disinilah nilai hidup ini baginya tak guna hiduptanpa nilai (Marifat). Karena marifat itu (adalah jiwanya iman) dan jiwanya iman (ialah ichsan). Apabila jiwa-jiwa itu kosong dari marifat samalah hidupnya sebagai seekor binatang buas, yang rakus dan tak tahu diri.
Karena acuan tujuan hidup ini adalah : cinta dan ridha. Apabila cinta dan redha telah bersatu padu dalam satu jiwa : maka jiwa-jiwa itu telah bebas dari belenggu kemakhlukan semata. Karena dalam jiwa yang suci : akan melahirkan perbuatan yang suci pula. Tentang kata-kata suci dan kotor ini, anda telah maklum adanya, tak usah anda pikirkan lagi. Bagi anda semua suci, semua halal, dan semua baik. Tidak ada kejahatan di dalam dunia ini yang jahat itu artian dunia ialah : orang yang mengaku ada punya akal sendiri, usaha sendiri, perbuatan sendiri yaitu diluar perbuatan Allah. Itulah yang dimaksud jahat atau bathil, tetapi bagi kita iman dan taat, kafir dan maksiat, jahat dan baik adalah sama, dan semuanya adalah baik.
Tidak ada perbuatan Tuhan itu yang jahat bila datangnya dari Tuhan : semua baik jadi pendirian seorang ahlul haqiqat semata ialah : yang benar-benar sudah bersih dari kesirikan menyatakan : setiap perbuatan ku adalah baik. Setiap gerak gerikku ibadah. Setiap nafas keluar masuk zikir. Jelasnya adalah gerak gerik adalah : ingat. Paham dari ingat ini adalah : bersatu (satu). Apabila sudah benar-benar satu dengan seluruh alam dan Tuhan, itulah kesatuan ujud namanya. Ulah datul wujud artinya : semua itu Allah dan Allah itu semua. Kalau sudah begini inilah yang disebut Tuhan YME yang maha tunggal, yang maha sempurna. Kalau sudah begini katakanlah apa yang kau mau. Semuanya baik, semuanya ibadah dan semuanya sempurna. Karena pokok pangkalnya segala kejadian, segala kehidupan dan segala amal perbuatan telah anda ketahui semuanya/seluruhya. Maka dari itu janganlah anda ada perasaan syak dan ragu lagi. Tidak ada yang perlu ditakuti lagi, jangan takut kepada Tuhan, karena Tuhan bukan hantu, bukan iblis, bukan jin dan bukan malaikat, semuanya bukan dan bukan. Adakah orang yang takut dengan dirinya sendiri ? Adakah orang yang benci kepada dirinya sendiri ? dan adakah orang memerintah diri sendiri ? dan adakah orang menjatuhkan hukuman kepada diri sendiri ? yang ada hanya memuji dirinya sendiri, mencintai dirinya sendiri, merasa sendiri dan berbuat sendiri. Semua orang mengaku benar, mangaku baik dan mengaku mulia. Hampir semua orang merasa dirinya tidak bersalah, tidak berdosa dan tidak tercela. Pahamilah kata-kataku ini. Kalau percaya ambil, kalau ragu buang jauh-jauh tidak ada paksaan dalam agama Allah. Pilihlah sendiri saja.
Maqam –Tuhan (Titik – Puncak)
Seorang insan kamil (manusia-sempurna) bagi mereka tak ada perlu lagi kepada asma dan kedudukan atau dengan pangkat. Dia tidak lagi mengatakan Allah atau Tuhan. Muhammad atau arif / wali, atau dengan mengulang-ulang kata-kata hamba atau manusia atau makhluk. Dia tidak perlu lagi mengatakan zat, atau sifat. Apalagi kata-kata syariat dan tarikat. Dia tidak memerlukan lagi kata-kata haqiqat dan ma’rifat hanyalah ia diam dalam malaqutnya dan tunggal dalam jabarutnya. Hanya tinggal (Aku) dalam isyaratnya jadi kata-kata : Aku : telah mencakup keseluruhannya seisi langit dan bumi : arsyi dan kursi, luh dan qalam, dunia dan akhirat.
Demikianlah haqiqat ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kembali kepada asalnya (Awalnya) sebelum ada yang mengenalnya., belum tahu namanya apalagi sifat dan zatnya. Dan sebelum menjadikan ruh dan aradnya. Sedangkan Nur Muhammad pun belum ada. Dia berdiri dengan sendirinya, berdialog sendiri, hidup sendiri, tanpa ruh dan jasad. Jadi pada haqiqatnya tidak memerlukan apa-apa, cukup dengan (Aku) tidak pakai kata-kata Nya, tidak kata-kata Dia, dan tidak ada kata-kata engkau. Simpun dalam kalimah (Aku) dan kalimah aku ini harus lenyap pula dalam huruf dalam kata-kata dan dalam suara. Artinya : tidak huruf, tak ada suara : inilah yang sebenar-benar fana dan lenyap dan baqa dan baqa ul baqa tidak ada di atas ini lagi. Kata-kata (Aku) disini hanya ada kaimiyah bathin : Ada kata, tetapi tidak berkata, ada huruf tetapi tiada huruf dan ada suara tetapi tidak bersuara, dikatakan diam tidak berdiam, padahal diam. Aku disini ialah (Al Haqqu) jadian akuan orang hawas dengan orang alim/awam adalah berlainan. Akuan orang awam/alim masih konselet, sedang akuan orang hawas adalah putus hubungan dengan makhluk : tidak ada duanya lagi, atau syiritnya lagi, atau tidak ada berbau makhluk lagi, ia satu dengan Tuhan dan satu dengan seluruh alam dan satunya dengan seluruh perikemanusiaan (kun kata Allah) (fayakun kata Muhamaad) (Nin Kun kata Adam) (Rabbikun kata Jibril) satu wujud satu nyawa, satu rasa, dan satu rahasia, satu zat, satu sifat, satu asma, dan satu perbuatan, satu iradat, satu kekuasaan, satu undang-undang dan satu keputusan.
Dalam tingkat ini tidak ada lagi dua kata-kata atau dua bagian, atau dua zat, dua sifat dan perbuatan semuanya terlingkup dalam satu kata, satu maksud, dan satu tujuan. Pokoknya serba bukan serba dua, apalagi masih merasa ada dua daripada kamu pergi kesana.
Baiklah aku nyatakan
Sorga itu karena marifat : Neraka itu karena Hijab : soal yang lainnya hanya soal kedua saja, atau tidak ada soal sama sekali yang penting kamu telah suci dari mensekutukan Allah, artinya bersih daripada perbuatan syirik, karena syirik itu dua rupa, rupa pertama berupa syirik yang samar : rupa kedua berupa syirik yang nampak. Syirik yang halus atau samar anda sudah maklum dan sirik yang nampak atau terang-terangan seperti di bawah ini :
Mengadakan sajian atau memberi makanan kepada makhluk halus, karena takut disakiti atau supaya ia bisa menyembuhkan.
Karena imannya kosong kepada Tuhan, iblis dan syaithan selalu diadakan.
Karena jelasnya dirinya merupakan syaithan, maka tak segan memberi syaithan
Selama hawa nafsu syaithan belum lenyap dari pandangannya, selama itu ia syirik kepada Tuhan.
Obat syirik itu tidak ada, kecuali ma’rifat kepada Tuhan.
Menyembah sesuatu bukan Allah
Kalau ada masih syirik yang besar atau syirik yang halus, maka tetap dalam dosa durhaka kepada Allah untuk selama-lamanya, dan tidak ada ampunannya atau tobatnya, kecuali kembali kejalan yang diridhoi.
Jalan yang diridhoi ialah ma’rifat
Inilah suatu peringatan bagi orang yang sempurna akal. Tak guna ilmu setinggi langit, kalau masih ada berbau syirik.
Biar batunging sampai ke langit, namun syirk bagaikan bukit.
Jadi yang utama disini ialah untuk diri sendiri.
Jangan bingung kepada orang lain, cela dan maki soal biasa.
Zazam
Dari kutub utara sampai kutub selatan, dari magrib sampai ke masyrik, dari daksima sampai kepaksima. Dari yang dunia ke ujung hanya beberapa orang saja yang sampai ketingkat zazam ini. Sekarang ini dapat dihitung dengan jari tangan, orang yang berada pada tingkat Zazam ini. Satu daerah besar hanya satu orang saja yang sampai pada tingkat Zazam ini.
Sedang di dunia ini hanya ada beberapa daerah besar itu, maka dari itu nyatalah dapat dihitung dengan jari tangan orang-orang yang berada pada tingkat ini. Apakah arti Zazam ini ? Zazam ialah (kosong). Dalam kitab Berincong disebut : (Alif-Titik-Titik-Kosong). Apabila alif dan titik-titik itu sudah lenyap atau sudah karam dalam lautan Alhadiyah zat mutlak, maka semuanya kosong : Alla humma : ya Tuhan kami : tidak engkau jadikan alam ini kosong saja, semuanya mengandung Rahasia Zazam. Didalam kekosongan mengisi yang kosong itu. Tidak boleh ada dua orang dalam satu rahasia. Masuk daerah Tuhan hanya satu saja, tidak boleh lebih daripada satu. Pahamkah anda …….??? Kalau paham diamlah !!! kalau belum paham simpanlah dalam diri ini tidak memerlukan pertanyaan, siapa bertanya dia sendiri yang menjawabnya.
Tidak boleh ada dua jiwa dalam mengisi kekosongan ini jelasnya tidak boleh ada perantara seorang guru, atau seorang syech. Langsung berdialog kepada : Tuhan sendiri. Tidak ada tawar menawar dalam soal rahasia ini. Tidak ada emas dan perak menjadi syarat. Tidak ada anak emas dan anak tiri dalam soal ke-Tuhanan. Tidak ada lantaran anak dengan orang tuanya. Tidak ada alasan karena Nabi dan Rasul-nya yang dibolehkan. Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul itu sama saja dengan kamu.
Rahasia ini bukan untuk Nabi-Nabi dan RAsul-Rasul, bahkan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul tercengang melihat umatnya ada yang sejajar dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul di alam baja nanti. Siapakah dia orang itu ? Orang itu ialah yang telah Zazam : dan mereka itu benar-benar sampai kepada maqam ichsan-ichsan Tuhan kepada Tuhan. Karena ichsan (zazam) ini di atas dari Islam dan iman. Sebab ichsan dan iman itu adalah termasuk sifat ubudiya (kehambaan).
Sedang Tuhan mempunyai dua sifat utama : pertama sifat kehambaan dan kedua ke-Tuhanan banyak luasnya aradh, sedang aspek dalamnya (Al Haq) jadi orang yang sampai kemaqam Tuhan (maqam) (ichsan atau zazam) maka telah hapus kedua sifat itu tadi.. karena tidak ada sifat yang berdiri di atas zat. Maka maqam ichsan itu di luar daripada pengetahuan makhluk dan di atas dari semua maqam ahlul ma’rifat.
Maqam ini disebut dengan gelar : penelanjangan Tuhan : sebab tidak ada kitabnya dan keluar dari dalil dan nash yang ada dia merupakan : ilmu laduni dan rahasia kudus : merupakan ilham dan wahyu yang tiada batasnya. Orang yang berada pada tingkat ini digelari dengan ”Keulungan – Agama” atau “Al-Aboo Reatud Diniyah”. Karena ia telah berhasil dalam lawatannya dalam bakat menganalisa ia telah bertemu kepada puncaknya segala puncak. Maka ia berhaq disifati dengan gelar keulungan agama itu tadi. Orang yang seperti inilah yang dimaksud Tuhan dalam firmannya : Tiap-tiap seratus tahun Aku turunkan satu orang utusanku sesudah Muhammad. Maka Sabda Rasulullah SAW yang berbunyi : tidak ada Nabi sesudahku ini bukan berarti tidak ada utusan sesudahku. Karena tiap-tiap Nabi bukan Rasul, tetapi tiap-tiap rasul adalah Nabi, Nabi itu artinya : menerima wahyu, tetapi tidak menyampaikan. Jadi kata-kata utusan itu tiada batas. Tiap-tiap seratus tahun tuhan menurunkan seorang utusan lidah yang lacur, maksudnya ialah Aku turunkan nanti seseorang utusanku yang membawa agamaku ke jalan yang haq yang disampaikannya dengan terus terang tanpa merasa takut dan gentar.
Mereka bukan tanpa disadarinya Artinya : di luar kesadaran manusia, maka berkata sembarangan kata, asal benar. Mereka tidak takut difitnah atau dikafirkan, bahkan mereka berani mati dalam menyampaikan yang haq itu. Apa-apa yang diputuskannya, tidak bisa lagi dicegah kehendaknya tidak bertentangan dengan : hukum-hukum Tuhan yang Azali : Tuhan Allah besertanya : Katakanlah semuanya kuikuti kemauanmu : itulah yang dimaksud Tuhan dengan lidah seorang yang benar berkata dengan sembarang kata, tetapi semuanya haq dan benar karena Tuhan maha mengetahui.
Banyak ulama sekarang yang menyembunyikan ilmu agama.
Agama dijadikan mata pencaharian
Dimana bunyi gendang disitu ia mencari
Dimana banyak uang disitu ia berbunyi
Pangkat dan kedudukan menjadi-jadi
Kursi dan kemegahan dijadikan Tuhan
Harta dunia jadi rebutan, kalau hilang jadi pikiran
Gelar ulama jadi kebanggaan menghambur fitnah melalui kekuasaan
Mesjid dan mimbar tempat peraduan
Agama dijadikan pokok dalam perpecahan, hasut-menghasut menjadi-jadi
Orang bodoh makanan si pintar
Masyarakat bingung mencari pemimpin ulama
Baik belakang akal pun hilang
Supaya aku tidaklah pincang
Pilih ulama sulit dibilang
Aku kembali langsunglah datang
Menghadap Tuhan malikul alam
Qur’an dan hadist petunjuk jalan
Menuju sempurna di malam kelam
Terang cahaya jauh dipandang
Hendak mendekat dalil dan nash taruh dibelakang
Menyeberang dari nash dan dalil memang terlarang
Hati rindu tidak dipedulikan
Biar bahaya terus berjuang
Tuhan mengampuni, pahlawan sejati, qur’an dan hadist khusus untuk orang alim dan orang awam. Untuk orang arif pilihlah yang lebih mendalam. Kalau perlu tinggalkan menyeberang, menuju Allah tiada ada batasnya. Siapa membatasi : takut disaingi. Harga ulama takut direndahkan, bukan alasan sampai disembunyikan. Ilmu Allah bebas tiada batasan. Baiklah aku serukan agar lebih mendalam.
Tiada batas menurut Alqur’an
Tiada seorang makhluk sanggup menghalang
Jangan peduli ocehan orang
Sebagai penghalang menuju Tuhan
Yakin dan bulat di dalam badan
Mewujudkan Tuhan khjaliku alam
Tuhan Allah ada berperi
Setiap insan harus diberi
Asal tuan sudi mencari
Tuhan Allah di dalam diri
Cukuplah kiranya goresan hatiku, kutuliskan dalam kertas yang putih ini, sebagai tanda mata, yang tak pernah hilang dalam kegelapan malam. Apabila anda dalam kesepian, bacalah dan renungkanlah apa arti hidup ini. Kemana titik terakhir tujuan hidup siapa yang : Tuhan dan siapa yang Aku : Manakah arti nikmat itu dan yang manakah yang disebut kegelisahan itu.
Bulatkanlah cita-citamu semoga bulat pula pendirianmu. Merdekakanlah dirimu dengan kemerdekaan Tuhan. Lepaskanlah belenggu yang ada dipundakmu. Terbanglah dengan bebas dan merdeka menurut seleramu. Pakailah selimut kebesaran Tuhanmu. Janganlah merasa ada orang di atasmu dan di bawahmu. Disamping kiri kananmu. Tenangkanlah jiwamu dalam Rahman dan Rakhim Tuhanmu. Hiburlah hatimu dengan Tuhanmu sehingga bulat itikadmu. Kekayaan Tuhan hanya dapat dirasai oleh hatimu sendiri. Disini tidak ada miskin lagi. Mautpun soal kecil bagi kekasih dalam kebebasan luas. Mati adalah jalan yang terbaik bagi seorang pencinta Tuhan.
Amin
= Wassalam =